Sebagai perbandingan, skor demokrasi tertinggi Indonesia sejak reformasi tercatat pada 2008, yakni sebesar 0,55, saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
“Sekarang ini lebih buruk dibanding masa Jokowi,” tegas Saiful.
Lebih lanjut, berdasarkan temuan V-Dem, Indonesia kini masuk dalam kategori electoral autocracy atau otokrasi elektoral. Artinya, pemilu tetap dilaksanakan, namun kualitasnya dinilai tidak sepenuhnya demokratis.
Saiful menjelaskan, V-Dem merupakan salah satu rujukan utama para akademisi dalam menilai kualitas demokrasi suatu negara.
Pengukuran dilakukan melalui dua indeks utama, yakni indeks demokrasi elektoral dan indeks komponen liberal.
Indikator yang dinilai antara lain kebebasan berekspresi, kebebasan berserikat, kualitas pemilu, kesetaraan di hadapan hukum, kebebasan individu, independensi penegak hukum, hingga efektivitas kontrol legislatif terhadap eksekutif.
Menurut Saiful, salah satu persoalan utama yang membuat demokrasi Indonesia melemah adalah minimnya mekanisme checks and balances. Hal ini dipicu oleh hampir tidak adanya oposisi di parlemen.









Komentar