Mulai dari cara hidup, pola penguburan, pembuatan artefak, hingga kebutuhan bertahan hidup, sosial, dan ritual kepercayaan masa lampau.
Di bagian akhir, terselip pesan kuat: situs ini harus dilestarikan agar tabir sejarah yang belum terungkap bisa dibuka di masa depan.
Usai pemutaran film, rombongan berkeliling museum, menyimak koleksi peninggalan sejarah, sembari berswafoto mengabadikan momen.
Kesan mendalam disampaikan Kasubbag TU Kemenag OKU, H. Fahrul Amin. “Museum ini luar biasa,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Sementara itu, Kepala KUA Semidang Aji, Arman Ashri, memberi catatan jujur. Menurutnya, masih ada yang perlu dibenahi.
“Serasa ada yang kurang. Harus ada terobosan agar pengunjung punya alasan untuk datang kembali,” katanya.
Pantauan di lapangan, sejumlah kekurangan memang masih terasa. Jaringan internet nyaris tak ada, membuat pengunjung kesulitan memperbarui status di media sosial.
Suhu ruangan pun cukup panas karena pendingin udara tidak menyala.
Meski begitu, Museum Gua Harimau tetap menyimpan daya magis: jejak peradaban tua yang menunggu untuk terus digali dan diceritakan ulang kepada generasi masa kini. (New)









Komentar