Ketika hanya pemilih yang mengenal keduanya yang dihitung, dukungan AHY meningkat menjadi 51,1 persen. Gibran turun menjadi 28,7 persen, sementara 20,3 persen belum menentukan pilihan.
Modal Ada, Pertarungan Belum Selesai
Meski hasilnya menguntungkan AHY, angka survei ini tidak otomatis menjadi tiket menuju kemenangan. Tingkat pengenalan, dinamika koalisi, pencalonan, dan perkembangan politik masih dapat mengubah peta persaingan.
Survei SMRC melibatkan 1.213 responden yang memiliki hak pilih, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, berdasarkan asumsi simple random sampling.
Temuan ini setidaknya menunjukkan satu hal: popularitas tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesukaan maupun pilihan politik. AHY masih tertinggal dalam hal keterkenalan, tetapi berpotensi mengonversi modal penerimaan publik menjadi dukungan elektoral yang lebih besar.
Jika pengenalan terhadap AHY semakin meluas, persaingan dengan Gibran dan Prabowo bisa menjadi jauh lebih ketat. Namun, apakah potensi itu benar-benar berubah menjadi kekuatan politik pada Pilpres mendatang, masih harus dibuktikan. (RIL)









Komentar