Datang dari luar daerah. Bukan untuk merawat luka. Dia datang membawa “pisau bedah”. Membawa perspektif baru. Bukan sekadar mengganti kebijakan, tapi merombak cara berpikir.
PDAM atau kini Perumda Air Minum Tirta Raja tidak boleh lagi identik dengan lamban, birokratis, dan anti kritik. Harus berubah jadi entitas profesional, responsif, dan berorientasi layanan.
“PDAM ini harus berubah. Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama,” tegas Bertho dalam salah satu kesempatan.
Kalimat itu bukan sekadar jargon. Ia jadi garis komando. Langkahnya langsung terasa.
Instruksi tegas keluar. Disiplin pegawai diperketat. Sistem lama? Dibongkar. Budaya kerja? Dipaksa berlari.
Agresif? Ya. Karena itu yang dibutuhkan. Pesannya jelas: era nyaman sudah berakhir.
Transformasi menuju Smart Water Company bukan jargon kosong. Digitalisasi mulai disentuh, dari sistem pelayanan hingga manajemen distribusi.
Bayangkan ini: ke depan, pelanggan tidak lagi harus repot datang ke kantor hanya untuk mengurus keluhan. Semua diarahkan menuju sistem berbasis digital. Lebih cepat, lebih transparan, dan minim celah permainan.








Komentar