“Bagaimana mau hidup layak kalau kerja saja tidak ada?” tegas Rio.
Sorotan lain Adalah program yang dinilai terlalu seremonial. Pemerintah menyebut upaya penciptaan kerja dilakukan lewat pelatihan. Dari pangkas rambut, tata rias, fotografi, hingga video kreatif.
Masalahnya, setelah pelatihan… lalu apa? “Kalau ujungnya tidak ada pekerjaan, itu cuma formalitas. Rakyat butuh kepastian, bukan sekadar pelatihan yang tidak jelas arah,” kritik Rio.
Ia bahkan menyebut program ini berpotensi jadi “jualan angka tanpa peta jalan”.
Yang paling menyakitkan, kata FAS, adalah ironi Muara Enim. Daerah kaya sumber daya alam (batubara, energi, Perkebunan), tapi masyarakatnya belum ikut sejahtera.
“Batu bara keluar tiap hari. Investasi masuk besar. Tapi anak daerah tetap jadi penonton. Ini yang bikin kecewa,” sindir Rio.
FAS mendesak pemerintah berani tegas. Yakni prioritaskan tenaga kerja lokal, buka transparansi rekrutmen perusahaan, dorong UMKM produktif, dan bangun ekonomi desa yang nyata.
FAS juga menantang Pemkab Muara Enim untuk buka data secara terang-benderang. Berapa tenaga kerja yang benar-benar terserap? di sektor apa saja? berapa persen tenaga kerja lokal? dan bagaimana pengawasannya?.









Komentar