Langkah ini sekaligus jadi sinyal: tata kelola pendidikan di OKU Timur mulai naik kelas.
Bupati OKU Timur, Ir. H. Lanosin, M.T., M.M., tak menampik bahwa pekerjaan rumah pendidikan masih panjang. Namun ia optimistis, dengan kerja bareng semua pihak, kualitas pendidikan bisa terus didongkrak.
“Ini bukan soal siapa yang paling hebat. Tapi bagaimana yang sudah baik bisa ditiru dan diperluas,” ujarnya.
Menurutnya, prestasi siswa OKU Timur di level internasional sudah jadi bukti, potensi itu ada. Tinggal bagaimana menjaganya tetap konsisten.
Namun, Lanosin mengingatkan, pendidikan tak cukup hanya melahirkan siswa pintar.
Di era kecerdasan buatan, kata dia, kemampuan berpikir kritis dan problem solving memang penting. Tapi itu belum cukup.
“Kepintaran bisa disaingi teknologi. Tapi etika, empati, dan nilai kemanusiaan. Itu yang tidak dimiliki mesin,” tandasnya.
Pesan Bupati jelas bahwa guru jangan hanya transfer ilmu. Tapi juga membentuk karakter.
Karena target akhir pendidikan di OKU Timur bukan sekadar lulusan berotak cerdas, tapi juga berhati matang. Punya kepekaan sosial, punya moral.









Komentar