
HARIANRAKYAT.CO.ID – Janji manis penciptaan 10.000 lapangan kerja yang digembar-gemborkan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Muara Enim, Edison–Sumarni, kini mulai terasa hambar. Di lapangan? Nihil terasa. Yang terdengar masih sebatas slogan.
Kritik pedas datang dari Ketua Forum Aspirasi Serasan (FAS), Rio Saputera. Ia blak-blakan, bahwa program unggulan itu sejauh ini lebih mirip “jualan politik” ketimbang bukti nyata.
“Rakyat ini butuh kerja, bukan seminar. Butuh penghasilan, bukan seremoni. Sampai hari ini, mana 10.000 lapangan kerja itu?” sentil Rio, tajam.
Realitas di Muara Enim jauh dari janji. Pengangguran usia produktif masih tinggi. Lulusan SMA hingga sarjana banyak yang gigit jari. Pemuda lokal sulit tembus dunia kerja. Ironisnya, tenaga kerja dari luar justru lebih dominan.
FAS menilai, pemerintah terlalu cepat tepuk dada. Klaim keberhasilan digaungkan, tapi indikator paling mendasar (penyerapan tenaga kerja) belum terlihat signifikan.
Program-program seperti sembako murah, seragam gratis, hingga pembangunan infrastruktur memang jalan. Tapi bagi rakyat, itu belum menyentuh persoalan inti: perut.









Komentar