Bedanya hanya pada isi dompet, tetapi sama-sama lahir dari tekanan hidup dan kehampaan sosial.
Bagindo juga mempertanyakan peran pemerintah daerah, khususnya dinas terkait seperti Satpol PP dan Dinas Sosial.
Menurutnya, sangat ironis bila fenomena ini justru ditemukan dan diviralkan warga biasa, bukan oleh aparat atau pekerja sosial yang setiap hari berada di lapangan.
“Kemana mereka selama ini? Kok malah netizen yang menemukan?” katanya.
Ia menduga kasus dua bocah ngelem di kawasan pusat kota itu hanyalah puncak gunung es.
Masih banyak anak-anak lain yang hidup terlantar di bawah jembatan, lorong sempit, hingga sudut-sudut kota yang luput dari perhatian negara.
Karena itu, Pemkot Palembang diminta tidak sibuk mencari siapa yang merekam video, apalagi tersinggung karena citra kota dianggap tercoreng.
Pemerintah justru seharusnya berterima kasih karena video tersebut membuka mata publik terhadap realitas sosial yang selama ini tersembunyi.
Sibuk Percantik Kota, Lupa Warganya
Kritik paling tajam disampaikan Bagindo saat menyinggung arah pembangunan Kota Palembang.








Komentar