
Kekhawatiran serupa dirasakan Bohim, warga yang rumahnya berada paling dekat dengan titik longsor. Ia mengaku masih trauma dengan peristiwa longsor yang terjadi sekitar sepekan lalu.
“Waktu tanah jatuh ada suara keras, rumah terasa bergetar,” ujarnya.
Meski dihantui rasa cemas setiap hari, Bohim mengaku tidak memiliki banyak pilihan. Untuk pindah rumah pun dirinya belum memiliki kemampuan.
Sementara itu, Ketua UP BBWS Sumatera VIII, Tulus, mengatakan hasil survei lapangan akan segera dilaporkan kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti.
Dalam waktu dekat, kata dia, akan dilakukan penanganan darurat guna mencegah longsor semakin meluas dan menghindari risiko terhadap warga.
Untuk solusi jangka panjang, BBWS VIII mempertimbangkan pembangunan pengaman tebing menggunakan paku bumi/ sheet pile atau dinding penahan (cor) yang dipancang ke dalam tanah.
“Kalau hanya bronjong, seperti yang disampaikan warga tadi, efektivitasnya memang kurang untuk kondisi seperti ini,” jelasnya.
Kini warga berharap kunjungan kali ini tidak sekadar menambah daftar survei. Sebab yang mereka butuhkan bukan lagi pengukuran dan dokumentasi, melainkan alat berat, pekerjaan fisik, dan kepastian bahwa rumah mereka tidak ikut hanyut bersama tanah yang terus tergerus. (Ep)


![GEDUNG_KESENIAN_BATURAJA[1]](https://harianrakyat.co.id/wp-content/uploads/2026/09/GEDUNG_KESENIAN_BATURAJA1-750x450.jpg)





Komentar