“Ini ada ilmunya, Kesejahteraan Sosial. Harusnya yang paham itu yang duduk di sana,” tegas Ade.
Sayangnya, meritokrasi kalah oleh balas budi politik. Jabatan bukan lagi amanah. Tapi hadiah.
Wali Kota Sibuk Bangun Beton, Lupa Bangun Manusia
Kritik paling keras mengarah ke pucuk pimpinan. Selama ini, pembangunan Palembang dinilai terlalu fokus pada fisik. Taman dipercantik. Infrastruktur dipoles. Kota dibuat tampak indah di permukaan.
Tapi manusianya? Anak-anak yang seharusnya di bangku sekolah justru berkeliaran di lampu merah. Bahkan menghirup lem di ruang publik.
Ketika kepala daerah lemah dalam monitoring, laporan yang sampai ke meja pimpinan hanya laporan ABS (Asal Bapak Senang).
Realitas di lapangan? Disembunyikan. Padahal, kota besar lain sudah bergerak lebih progresif.
Jakarta, misalnya, pernah punya TGUPP sebagai think tank berbasis data untuk mengevaluasi kebijakan dan kinerja ASN.
Palembang? Masih berjalan tanpa peta. Tanpa data. Tanpa prioritas.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka video anak-anak “teler” di Jembatan Ampera bukan yang terakhir.









Komentar