Persoalannya, menurut pengakuan korban, perlakuan yang diterimanya tidak berhenti pada teguran.
Saat itu, korban mengaku tidak dipersilakan duduk di kursi. Ia justru duduk jongkok, sementara kepala sekolah berdiri di hadapannya.
Dalam posisi itulah, korban mengaku ditendang hingga tubuhnya terjengkang.
Tetapi, ada hal lain yang membuat keluarga korban semakin geram. Bukan semata dugaan tindakan fisik tersebut, melainkan ucapan kepala sekolah yang dinilai telah menyeret tragedi keluarga ke dalam persoalan kedisiplinan sekolah.
Menurut Yansah, kakak korban, kepala sekolah sempat melontarkan kalimat yang kurang lebih berbunyi, “Hampir nak mati samo ayuk kau.”
Ucapan itu dinilai sangat menyakitkan. Sebab, korban memang pernah mengalami kecelakaan sepeda motor bersama kakak perempuannya sekitar setahun lalu. Dalam musibah tersebut, sang kakak meninggal dunia.
“Kalimat itu tidak ada hubungannya dengan persoalan adik saya di sekolah. Mengapa musibah yang sudah terjadi justru dibawa-bawa?” ujar Yansah.



![GEDUNG_KESENIAN_BATURAJA[1]](https://harianrakyat.co.id/wp-content/uploads/2026/09/GEDUNG_KESENIAN_BATURAJA1-750x450.jpg)




Komentar