“Di Indonesia, ICP jadi katalis. Petani makin kuat posisinya di rantai pasok kopi,” kata Arman.
Dulu, kopi dari sejumlah daerah bahkan dianggap “kelas dua”. Pembeli langsung dari petani nyaris nggak ada.
Sekarang? Banyak koperasi sudah mampu jadi penghubung langsung ke eksportir.
Tantangan Masih Ada
Meski capaian cukup signifikan, tantangan belum selesai. Perubahan iklim, biaya produksi yang naik, hingga ketidakpastian global masih jadi ancaman nyata.
Ironisnya, di saat yang sama, dukungan internasional di beberapa negara justru mulai berkurang. Namun ICP memastikan tetap di jalur.
“Kami tetap berkomitmen pada pendekatan jangka panjang. Transformasi sektor kopi harus terus berjalan,” tegas Rui.
Intinya: kolaborasi jadi kunci. Dan selama 25 tahun terakhir, ICP mencoba membuktikan, kalau kerja bareng, petani kecil pun bisa naik kelas. (Ril)









Komentar