oleh

Josepha: Pemantik Nalar Kritis

Di titik inilah peristiwa itu menemukan maknanya.

Apa yang dilakukan Josepha adalah praktik nyata nalar kritis. Sesuatu yang justru kian langka. Banyak orang mengetahui ada yang janggal, tetapi memilih diam. Bukan karena tidak paham, melainkan karena takut.

Ketakutan itu nyata. Takut pada dampak. Takut pada tekanan. Takut pada risiko sosial maupun profesional.

Pengalaman saya sebagai wartawan memperlihatkan hal itu berulang kali. Keluhan datang dari berbagai pihak. Ada hak yang dipotong, perlakuan yang tidak adil, kebijakan yang janggal, namun berujung pada satu keputusan yang sama. Diam.

Diam sering dianggap aman. Padahal, dalam banyak kasus, diam justru memperpanjang ketidakadilan.

Di sinilah pentingnya keberanian yang disertai akal sehat. Kritis bukan berarti kasar. Bertanya bukan berarti melawan. Ada ruang untuk menyampaikan keberatan secara tepat. Dan Josepha menunjukkan itu.

Ia menjadi pengingat bahwa keberanian tidak harus hadir dalam bentuk konfrontasi, tetapi bisa hadir dalam bentuk pertanyaan yang jernih.

Komentar