Menariknya, di tengah derasnya dukungan publik, muncul pula bentuk apresiasi dari kekuasaan. Josepha bahkan ditawari beasiswa oleh anggota MPR RI.
Ini menunjukkan satu hal. Ketika nalar publik bergerak, respons akan mengikuti.
Namun, esensi dari peristiwa ini bukan pada ganjaran yang datang kemudian. Bukan pula pada viralitas yang mengiringi.
Melainkan pada pesan yang ditinggalkan, bahwa keberanian berpikir masih mungkin tumbuh.
Kita membutuhkan lebih banyak anak muda yang berani bertanya, bukan sekadar menerima. Yang mampu menguji, bukan hanya menghafal. Yang berani menyuarakan, tanpa kehilangan adab.
Karena kemajuan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa berani kita mengolahnya dengan akal sehat.
Josepha mungkin hanya satu nama dari sekian banyak pelajar di negeri ini. Tetapi dari satu keberanian, bisa lahir gelombang kesadaran.
Dan dari sana, nalar kritis menemukan momentumnya Kembali. (**)









Komentar