
Oleh: Muhammad Wiwin
Penyuluh Agama Kemenag OKU; mantan wartawan dan Ketua PWI OKU (2021–2024).
DI TENGAH banjir informasi dan riuhnya media sosial, satu hal justru sering hilang. Keberanian untuk bertanya.
Kita hidup di era digital, di mana akses informasi terbuka lebar, tetapi tidak semua orang berani menguji kebenaran di hadapannya.
Di situlah sikap kritis menjadi penting. Bukan untuk membantah, apalagi sekadar berbeda, tetapi untuk memastikan bahwa akal sehat tetap bekerja.
Kasus yang melibatkan seorang pelajar, Josepha Alexandra, dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI, beberapa hari terakhir, menyedot perhatian publik. Ia berani menyampaikan protes ketika jawabannya dinilai salah.
Peristiwa ini cepat menjadi viral. Publik bereaksi. Dukungan mengalir. Seperti lazimnya, ruang digital segera berubah menjadi arena penilaian massal.
Namun, yang lebih penting dari sekadar viralitas adalah sikap yang ditunjukkan. Josepha tidak sekadar membantah. Ia bertanya. Ia menyampaikan keberatan di ruang terbuka, tanpa kehilangan adab.









Komentar