oleh

Spirit Persatuan Terkikis Era Digital, Game Online Salah Satu Penyebabnya

Novri Helmi, Kabid PTKP HMI Cabang Baturaja

HARIANRAKYAT.CO.ID – Sumpah Pemuda merupakan bagian sejarah bangsa indonesia. Momen tersebut menjadi penanda komitmen tegas arah perjuangan bangsa yang diikrarkan oleh pemuda di zaman itu, seperti M. Yamin, Sugondo Djojopuspito, Amir Sjarifuddin, Johanes Leimena, dan WR Soepratman, dalam Kongres Pemuda II.

“Oleh karenanya, kami mengajak para pemuda di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), untuk saling memperkuat simpul kepemudaan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda hari ini, 28 Oktober 2021,” ajak Novri Helmi, Kabid PTKP HMI Cabang Baturaja.

Menurut Novri, sumpah ini dianggap sebagai semangat menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Yakni ikrar bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu bahasa Indonesia.

“Sumpah ini juga memuat banyak nilai-nilai positif yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain patriotisme, gotong-royong, persatuan dan kesatuan, cinta damai, dan tanggung jawab,” ujarnya.

Namun, di tengah perkembangan zaman serba digital ini, papar Novri, justru spirit persatuan itu nampak terkikis oleh sifat individualisme yang disebabkan beberapa faktor.

Antara lain, kurangnya komunikasi antar satu orang dengan individu lainnya yang ada di sekitar. Kurangnya kepedulian dan kepekaan terhadap kepentingan orang lain.

Kemudian terjebak dalam suasana game online yang berlebihan serta turunnya minat berorganisasi di tengah arus globalisasi digital.

“Ini salah satu indikasi yang harus kita sadari dan mulai berbenah menularkan energi positif. Itu dimulai dari diri sendiri,” cetus dia.

Lanjut Novri, bahwa generasi muda saat ini sudah saatnya untuk mengembangkan jaringan (network) untuk berkolaborasi ke segala sektor sesuai disiplin ilmu.

“Karena dunia hari ini berbicara tentang kolaborasi, bukan semata-mata tentang kompetisi,” sebut dia.

Sekali lagi, ia mengajak para pemuda hari ini untuk memaknai sungguh-sungguh secara komprehensif dari teks Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda pada 28 Oktober 1928 silam, yang menjadi komitmen persatuan di tengah perbedaan dalam membangun peradaban bangsa ini kedepan.

“Persatuan dalam perspektif saya adalah merawat keberagaman bangsa ini agar tetap bersatu. Bukan menyeragamkan yang berbeda agar menjadi persatuan. Dengan demikian bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan tidak mudah dipecah belah oleh bangsa asing maupun bangsa sendiri. Spirit ini mesti kita jaga,” tandasnya. (Rel/win)

Baca Juga :  GM PGE Lumut Balai Kunjungi Kapolres OKU

Komentar